Home Nasional Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas

Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas

6 min read
Komentar Dinonaktifkan pada Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas
0
94
Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas

Di Indonesia, sepak terjang sindikat narkoba semakin beringas. Mereka tidak hanya menjadikan generasi muda Indonesia sebagai konsumen atau korban penyalahgunaan narkoba, tetapi juga kaki tangan untuk mengedarkan barang haram tersebut.

Dalam peredarannya, perkembangan teknologi informasi (TI) juga dimanfaatkan. Indonesia tercatat sebagai negara yang sedang dalam kondisi gawat narkoba. Diperkirakan jumlah penyalah guna narkoba sebanyak 3,8 juta hingga 4,1 juta orang atau sekitar 2,10% sampai 2,25% dari total seluruh penduduk Indonesia.

Adapun data itu diungkap pada 2014 silam. Dalam tiga tahun terakhir, pengguna narkoba dapat diklaim bisa ditekan. Tetapi apakah bisa secara signifikan menekan peredarannya, hal itu masih samar-samar.

Pada 2017, data hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan terdapat sebanyak 3,37 juta orang yang menggunakan narkoba pada kelompok usia 10-59 tahun. Provinsi DKI Jakarta menjadi provinsi dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba tertinggi.

Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas
Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas

BNN mengungkap, pada 2017 angka penyalah guna narkoba mayoritas berusia di bawah 30 tahun bila dibandingkan dengan usia di atas 30 tahun yang merupakan para pekerja. Prevalensi tertinggi terdapat pada kelompok berpendidikan tamat SD dan SMP.

Bagi mayoritas para pengguna narkoba cenderung memilih beberapa jenis narkoba yang mudah digunakan seperti beragam pil sejenis dextron, lexotan, dumolid, sanax, dan trihex . Adapun bagi kelas ekonomi menengah atas, mayoritas menggunakan jenis ganja, sabu, ekstasi, dan putau.

Para remaja yang memiliki kemampuan ekonomi pas-pasan, bahkan mencoba untuk mengonsumsi lem dan rebusan air pembalut untuk bisa menciptakan halusinasi.
Penggunaan dua jenis zat kimia yang bisa memabukkan itu mulai menjadi tren untuk dikonsumsi di berbagai daerah seperti Bekasi, Bogor, Karawang, Kudus, Rembang, dan Semarang.

Pertama kali menggunakan narkoba, hampir seluruh pengguna narkoba mengaku, awalnya hanya ingin mencoba akibat pengaruh dari bujuk rayu teman. Tetapi hal itu akhirnya tidak bisa dihentikan dan pengguna menjadi pecandu sampai dalam kurun waktu yang cukup lama sekitar 3-20 tahun.

Terlebih bagi para pengguna yang duduk di bangku SMP dan mulai mencoba untuk mengonsumsi narkoba atau zat adiktif lain yang membuat nge-fly atau halusinasi. Salah satu daerah yang jumlah pengguna narkobanya tinggi adalah Kabupaten Sleman.

Banyaknya perguruan tinggi, pusat bisnis, termasuk hotel, di satu sisi berdampak pada perekonomian, terutama di kawasan terdekat. Tetapi di sisi lain dengan banyaknya pendatang ini, muncul permasalahan baru.

Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas
Manfaatkan Kecanggihan TI, Sepak Terjang Sindikat Narkoba Makin Beringas

Selain penduduk menjadi lebih banyak, gesekan sosial, baik antar pendatang maupun warga setempat juga sering muncul. Bahkan kriminalitas termasuk penyalahgunaan narkoba seperti sulit terbendung.

Mayoritas para pengguna narkoba merupakan generasi muda dan usia produktif. Merujuk data Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) setempat, dari 60.128 jumlah penyalahgunaan narkoba di DIY, pada 2016 sepertiganya atau 22.000 di antaranya terjadi di Sleman.

Adalah generasi muda kebanyakan yang menyalahgunakan narkoba atau sebanyak 20% adalah pelajar dan mahasiswa. Tidak hanya di Yogyakarta, kini penyalahgunaan narkoba sudah menjadi masalah internasional. Kemajuan teknologi justru memudahkan peredaran barang ilegal tersebut.

Dari beberapa kasus, narkoba kerap diedarkan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi seperti media sosial atau via jalur online. Di Sleman misalnya upaya pencegahan dilakukan dengan menggelar seminar, diseminasi, kegiatan olahraga dan seni serta dengan melakukan razia setiap dua pekan sekali di kos-kosan dan tempat hiburan.

Tetapi yang menjadi kendala dalam pencegahan adalah masih rendahnya kesadaran para pecandu narkoba untuk melakukan rehabilitasi. Kepala BNNP DIY Brigjen Pol Triwarno Atmojo mengatakan, untuk menekan dan mencegah penyalahgunaan narkoba memang harus ada kepedulian dan perhatian bersama.

Namun demikian, terbukti dengan usaha keras tersebut, secara nasional untuk penyalagunaan narkoba di DIY menurun, yaitu dari peringkat kelima pada 2015 menjadi urutan kedelapan. Tahun 2018 pihaknya berharap kasus penyalahgunaan narkoba terus turun dengan target DIY dapat keluar dari 10 besar secara nasional.

Load More Related Articles
Load More By channelrakyat.com
Load More In Nasional
Comments are closed.

Check Also

Kecam Kekerasan Terhadap Wartawan, Lembaga Pers Pakistan Surati Jokowi

Lembaga Pers Pakistan (PPF) mengecam keras kekerasan terhadap wartawan saat kerusuhan dala…