Home Ekonomi Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan

Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan

7 min read
Komentar Dinonaktifkan pada Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan
0
212
Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan

Dimasa pemerintahan saat ini banyak mengalami kemerosotan terlebih dalam hal perekonomian. Sepanjang 2018, Neraca Perdagangan Indonesia mengalami defisit tajam. Pada periode Januari-November 2018, defisit perdagangan tercatat sebesar USD 7,51 miliar.

Hal tersebut mendapat reaksi dari Ekonom Senior, Faisal Basri yang menilai kinerja Neraca Perdagangan 2018 sebagai yang terburuk sejak Indonesia merdeka.

“Sejak merdeka, defisit perdagangan hanya 7 kali. Tahun 2018 defisit perdagangan terburuk sepanjang sejarah,” tweet Faisal di akun Twitter-nya, Kamis (10/1).

Menurut data neraca perdagangan dari periode 1945-2018 yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Tercatat adanya 6 kali defisit selama 73 tahun. Defisit perdagangan terjadi pada tahun 1945, 1975, 2012, 2013, 2014, dan 2018. Bila dilihat, defisit perdagangan tahun 2018 yang paling parah.

Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan
Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan

Dari empat kali defisit neraca perdagangan dalam satu dekade terakhir, di pemerintahan Jokowi baru terjadi sekali ini, pada 2018 (Data Januari-November), dengan angka defisit terburuk.

Pemerintah tidak menampik maupun membenarkan terkait defisit Neraca Perdagangan Indonesia selama tahun lalu merupakan yang terparah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, tidak seharusnya hal tersebut dibesar-besarkan. Masyarakat juga perlu melihat dari sisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) di tahun lalu yang diprediksi masih lebih baik dibandingkan 2014. Neraca perdagangan merupakan salah satu komponen perhitungan CAD.

Sedangkan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut defisit perdagangan di 2018 lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya impor barang modal. Enggar menilai impor barang modal seperti mesin dan peralatan listrik tak perlu dikhawatirkan karena hal tersebut digunakan untuk hal produktif.

Kemudian merujuk data BPS, impor barang modal seperti mesin dan peralatan listrik memang naik 22,02 persen yakni dari USD 7,139 miliar pada periode Januari-November 2017 menjadi USD 9,125 miliar pada periode sama di 2018.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai naiknya defisit perdagangan pada periode Januari-November 2018 juga dipengaruhi oleh dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

“Karena political judgment atau pun karena adanya trade war dengan AS kita juga harus melihat berbagai komoditas yang pasarnya sensitif terhadap isu-isu nonekonomi jadi penghambat dari ekspor kita,” ujar Sri Mulyani di Gedung Dhanapala Kemenkeu, Jakarta, Senin (17/12).

Indef: Defisit 2018 Dipicu Naiknya Impor Migas dan Baja

Berbeda pandangan, menurut Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai buruknya kinerja Neraca Perdagangan Indonesia lantaran beberapa faktor.

Pertama, Bhima menyebut impor BBM naik signifikan karena harga minyak dunia sempat menyentuh level tertingginya di USD 70-80 per barel dari bulan April hingga pertengahan November 2018. Harga tersebut dinilai tertinggi sejak harga minyak dunia mulai terpukul pada tahun 2014. Harga minyak dunia seperti Brent di 2018 mulai turun hingga berada di kisaran USD 50-55 per barel. Impor migas tercatat naik 28,87 persen year-on-year (yoy).

“Seiring harga minyak tahun 2018 sempat sentuh USD 75 per barel tertinggi sejak 2014. Defisit migas juga disebabkan produksi minyak dalam negeri selalu meleset dari target lifting,” ujar Bhima.

Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan
Terburuk Sepanjang Sejarah, Inilah Rapor Merah Jokowi Di Neraca Perdagangan

Pemerintah dan BUMN juga berkontribusi besar atas naiknya laju impor bahan baku dan barang modal pada proyek infrastruktur. Laju impor juga didorong oleh Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 22 Tahun 2018 tentang Ketentuan Impor Besi dan Baja. Akibat Permendag 22, impor besi dan baja melonjak tajam sebesar 27,81 persen pada periode Januari-November 2018.

“Pengawasan impor besi baja jadi post border relatif longgar. Impor besi baja di data BPS Januari-November naik 27,81 persen yoy. Nilainya tembus USD 9,125 miliar. Baja China juga gunakan permainan dumping sehingga harganya relatif murah di pasar Indonesia,” jelasnya.

Bhima melanjutkan, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang merupakan ekspor unggulan Indonesia terpukul sepanjang 2018. Selain proteksi dari pasar AS, Eropa, dan India, produk CPO Indonesia mengalami dampak penurunan harga. Proteksi dan penurunan harga memicu nilai ekspor sawit (nonmigas) menurun sekitar 10,82 persen.

“Padahal CPO kontribusinya cukup besar terhadap total ekspor nonmigas. Harga CPO ambruk kinerja ekspor loyo. Di semester kedua efek perang dagang mulai berimbas ke ekspor komoditas lain karena China kurangi permintaan bahan baku,” pungkasnya.

Sementara seiring jalannya waktu, ternyata tidak tampak adanya perubahan yang berpihak pada rakyat selama pemerintahan saat ini. Karenanya, masyarakat kini menginginkan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik, jujur, adil dan makmur.

 

Load More Related Articles
Load More By channelrakyat.com
Load More In Ekonomi
Comments are closed.

Check Also

Kecam Kekerasan Terhadap Wartawan, Lembaga Pers Pakistan Surati Jokowi

Lembaga Pers Pakistan (PPF) mengecam keras kekerasan terhadap wartawan saat kerusuhan dala…